Senin, 23 Februari 2009

Paska sarjana

Guru Besar Unnes Bertambah Dua Orang

Jumat, 16 Februari 2007 14:28:14

Semarang, unnes.ac.id. Universitas Negeri Semarang (Unnes) kembali akan mengukuhkan guru besarnya pada hari Rabu, 21 Februari 2007. Adalah Prof. Dr. Dwi Yuwono Puji Sugiarto,M.Pd.,Kons. orang yang paling bahagia pada hari itu. Karena beliau akan dikukuhkan sebagai guru besar UNNES ke-50 pada Fakultas Ilmu Pendidikan dalam Rapat Senat Terbuka yang akan dipimpin oleh Rektor Unnes yang juga Ketua Senat, Prof. Dr. Sudijono Satroatmodjo, M.Si. di Auditorium Unnes Kampus Sekaran.

Dosen Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan ini dalam pengukuhannya sebagai guru besar akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul �Konseling Proaktif dengan Strategi Pengelolaan Diri�. Profesor yang murah senyum dan biasa disapa dengan panggilan akrab �Pak DYP� ini sekarang juga menjabat sebagai Sekretaris Senat UNNES.

Pengukuhan Guru Besar Prof. Drs. A. Maryanto, M.A. Ph.D.
Beberapa hari sebelumnya dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Negeri Semarang, tepatnya Selasa, 13 Februari 2007, Drs. A. Maryanto, M.A. Ph.D. juga dikukuhkan sebagai guru besar Unnes yang ke-49. Prof. A.Maryanto dalam acara pengukuhan guru besar ini menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Language Contexts in Multicultural Education". Prof. Maryanto yang juga dosen pada Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) ini sekarang menjabat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana Unnes.

Dengan bertambahnya dua guru besar ini, maka diharapkan akan menambah kualitas dari Universitas yang dulunya dikenal dengan IKIP Semarang ini. Sehingga universitas yang sebentar lagi akan melangsungkan ulang tahun ke-42 ini bisa sejajar dengan universitas-universitas unggulan lainnya. Selamat kepada Prof. DYP. Sugiarto, dan Prof. A. Maryanto

Humas, edit

Rabu, 18 Februari 2009

Pembelajaran

Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah
Oleh: Trihadiyanti, S.Pd

Kreativitas merupakan suatu bidang yang sangat menarik untuk dikaji namun cukup rumit sehingga
menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Menurut Supriadi (2001) kreativitas didefinisikan secara
berbeda-beda tergantung pada bagaimana orang mendefinisikannya. Tidak ada satu definisipun yang dianggap
dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreativitas atau tidak ada satu definisipun yang dapat
diterima secara universal. Hal ini disebabkan oleh dua alasan. Pertama kreativitas merupakan ranah psikologis
yang kompleks dan multidimensional yang mengundang berbagai tafsiran yang beragam Kedua, definisi-definisi
kreativitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, tergantung pada dasar teori yang menjadi acuan
pembuatan definisi kreativitas tersebut. Walaupun demikian akan dipaparkan beberapa definisi kreativitas yang
dikemukakan oleh para ahli.
Supriadi (2001) memaparkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan
sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada
sebelumnya. Sementara itu, Munandar (1999) mengemukakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk
membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang sudah ada atau sudah dikenal
sebelumnya, yaitu semua pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya baik
itu di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dari lingkungan masyarakat. Selain itu, menurut pandangan ahli
psikologis Horrace et al (Sumarno, 2003) dikatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk
menemukan cara-cara baru bagi pemecahan problema-problema, baik yang berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, seni sastra atau seni lainnya, yang mengandung suatu hasil atau pendekatan yang sama sekali
baru bagi yang bersangkutan, meskipun bagi orang lain merupakan suatu hal yang tidak asing lagi.
Dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada intinya
kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru dan merupakan hasil
kombinasi dari beberapa data atau informasi yang diperoleh sebelumnya, terwujud dalam suatu gagasan atau
karya nyata.
Ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu ciri kognitif (aptitude) dan ciri non-kognitif (nonaptitude).
Ciri kognitif dari kreativitas terdiri dari orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran dan elaboratif. Sedangkan
ciri non-kognitif dari kreativitas meliputi motivasi, kepribadian, dan sikap kreatif. Kreativitas baik itu yang meliputi
ciri kognitif maupun ciri non kognitif merupakan salah satu potensi yang penting untuk dipupuk dan
dikembangkan. Pentingnya pengembangan kreativitas ini memiliki empat alasan, yaitu:
1. Dengan berkreasi, orang dapat mewujudkan dirinya, perwujudan diri tersebut termasuk salah satu
kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Menurut Maslow (Munandar, 1999) kreativitas juga merupakan
manifestasi dari seseorang yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya.
2. Kreativitas sebagai kemampuan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menyelesaikan suatu
masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam
2
pendidikan formal. Siswa lebih dituntut untuk berpikir linier, logis, penalaran, ingatan atau pengetahuan
yang menuntut jawaban paling tepat terhadap permasalahan yang diberikan. Kreativitas yang menuntut
sikap kreatif dari individu itu sendiri perlu dipupuk untuk melatih anak berpikir luwes (flexibility), lancar
(fluency), asli (originality), menguraikan (elaboration) dan dirumuskan kembali (redefinition) yang
merupakan ciri berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Guilford (Supriadi, 2001).
3. Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.
4. Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.
Mengingat pentingnya kreativitas siswa tersebut, maka di sekolah perlu disusun suatu strategi
pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas. Strategi tersebut diantaranya meliputi pemilihan
pendekatan, metode atau model pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang saat ini sedang berkembang
ialah pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang
menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang
disajikan pada awal pembelajaran (Ratnaningsih, 2003). Masalah yang disajikan pada siswa merupakan
masalah kehidupan sehari-hari (kontekstual). Pembelajaran berbasis masalah ini dirancang dengan tujuan untuk
membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan mengembangkan kemampuan dalam memecahkan
masalah, belajar berbagai peran orang dewasa melalui keterlibatan mereka dalam pengalaman-pengalaman
nyata (Ratnaningsih, 2003). Pada pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk melakukan pemecahan
masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis
dan dicari solusi dari permasalahan yang ada. Solusi dari permasalahan tersebut tidak mutlak mempunyai satu
jawaban yang benar, artinya siswa dituntut pula untuk belajar secara kreatif. Siswa diharapkan menjadi individu
yang berwawasan luas serta mampu melihat hubungan pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada
dilingkungannya.
Dalam ruang lingkup pembelajaran berbasis masalah, siswa berperan sebagai seorang profesional
dalam menghadapi permasalahan yang muncul, meskipun dengan sudut pandang yang tidak jelas dan informasi
yang minimal, siswa tetap dituntut untuk menentukan solusi terbaik yang mungkin ada. Pembelajaran berbasis
masalah membuat perubahan dalam proses pembelajaran khususnya dalam segi peranan guru. Guru tidak
hanya berdiri di depan kelas dan berperan sebagai pemandu siswa dalam menyelesaikan permasalahan
dengan memberikan langkah-langkah penyelesaian yang sudah jadi melainkan guru berkeliling kelas
memfasilitasi diskusi, memberikan pertanyaan, dan membantu siswa untuk menjadi lebih sadar akan proses
pembelajaran.
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2003), ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi
mengorientasikan siswa kepada masalah atau pertanyaan yang autentik. multidisiplin, menuntut kerjasama
dalam penyelidikan, dan menghasilkan karya. Dalam pembelajaran berbasis masalah situasi atau masalah
menjadi titik tolak pembelajaran untuk memahami konsep, prinsip dan mengembangkan keterampilan
memecahkan masalah.
3
Pierce dan Jones (Ratnaningsih, 2003) mengemukakan bahwa kejadian-kejadian yang harus muncul
pada waktu pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
a. Keterlibatan (engagement) meliputi mempersiapkan siswa untuk berperan sebagai pemecah masalah
yang bisa bekerja sama dengan pihak lain, menghadapkan siswa pada situasi yang mendorong untuk
mempu menemukan masalah dan meneliti permasalahan sambil mengajukkan dugaan dan rencana
penyelesaian.
b. Inkuiri dan investigasi (inquiry dan investigation) yang mencakup kegiatan mengeksplorasi dan
mendistribuskan informasi.
c. Performansi (performnace) yaitu menyajikan temuan.
d. Tanya jawab (debriefing) yaitu menguji keakuratan dari solusi dan melakukan refleksi terhadap proses
pemecahan masalah.
Pembelajaran berbasis masalah membuat siswa menjadi pembelajar yang mandiri, artinya ketika siswa
belajar, maka siswa dapat memilih strategi belajar yang sesuai, terampil menggunakan strategi tersebut untuk
belajar dan mampu mengontrol proses belajarnya, serta termotivasi untuk menyelesaikan belajarnya itu
(Depdiknas, 2003). Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa memahami konsep suatu materi dimulai dari
belajar dan bekerja pada situasi masalah (tidak terdefinisi dengan baik) atau open ended yang disajikan pada
awal pembelajaran, sehingga siswa diberi kebebasan berpikir dalam mencari solusi dari situasi masalah yang
diberikan.
Menurut Ismail (Ratnaningsih 2003) pembelajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan
utama, yaitu:
a. Orientasi siswa pada masalah dengan cara guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik
yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.
b. Mengorganisasikan siswa untuk belajar dengan cara guru membantu siswa dalam mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
c. Membimbing penyelidikan individual dan kelompok dengan cara guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah.
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dengan cara guru membantu siswa dalam merencanakan dan
menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.
e. Manganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dengan cara guru membantu siswa untuk
melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan siswa dan proses yang digunakan.
Pada intinya pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan
masalah dunia nyata disajikan di awal pembelajaran. Kemudian masalah tersebut diselidiki untuk diketahui
solusi dari pemecahan masalah tersebut. Menurut Torrance (1976) model pembelajaran yang berorientasi pada
pemecahan masalah seperti pada pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang efektif
untuk meningkatkan potensi yang dimiliki oleh siswa, salah satunya adalah kreativitas siswa. Situasi masalah
yang disajikan dalam pembelajaran tersebut merupakan suatu stimulus yang dapat mendorong potensi
kreativitas dari siswa terutama dalam hal pemecahan masalah yang dimunculkan. Kreativitas yang dapat
dikembangkan dalam pembelajaran berbasis masalah ini bukan hanya aspek kognitifnya saja (kemampuan

Artikel download

Orang Indonesia Sudah Cerdas Sosial dan Emosional?
Selasa, 6 November, 2007 oleh Merry Magdalena

You were searching for "kecerdasan sosial ". See posts relating to your search »
Orang Indonesia Sudah Cerdas Sosial dan Emosional?Orang Indonesia banyak yang pintar dan berpendidikan tinggi. Banyak yang lulus cum laude, menjadi juara tingkat internasional, dan sebagainya. Pengusaha...
Sudah Cerdaskah Bangsa Indonesia?Sudah cerdaskan bangsa Indonesia? Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya bisa jadi tidak. Banyak sekali tokoh Teknologi Informasi (TI) yang memberi...
Cukup Cerdaskah Moral Kita?Pintar dan cerdas saja tidaklah cukup menjadi jaminan keberhasilan seseorang. Ada nilai-nilai lain yang perlu dipegang teguh. Inilah yang melahirkan...
Lebih Jauh Mengenal Gerakan SosialGerakan sosial memiliki imbas luar biasa dalam negara. Pada tulisan bagian pertama , dibahas mengenai teori gerakan sosial. Kini akan...
Aborsi dari Kacamata Filsafat SainsEtiskah tindakan aborsi? Di Indonesia sempat muncul gerakan Keluarga Berencana (KB). Apa hubungnnya KB dengan filsafat? Berikut bagian kedua dari...
Orang Indonesia banyak yang pintar dan berpendidikan tinggi. Banyak yang lulus cum laude, menjadi juara tingkat internasional, dan sebagainya. Pengusaha sukses, artis berbakat, ilmuwan genius, politikus andal. Semua kita miliki. Tapi mengapa bangsa kita “begini-begini” saja? Apakah kita bermasalah dengan kecerdasan sosial dan emosional?
Seorang sahabat pernah berkata, “Orang Indonesia itu banyak yang mengejar skill dan knowledge saja, tapi behaviour-nya nol.” Sahabat tersebut sendiri berpendidikan S3, namun setahu saya behaviour alias perilakunya cukup baik. Yang dimaksud dengan perilaku nol adalah, banyak orang berpendidikan tinggi tapi kurang mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain aibat berperilaku kurang menyenangkan. Jika boleh disimpulkan, banyak orang sekadar mengejar Intelligence Quotient (IQ) tapi mengesampingkan Emotional Quotient (EQ), yakni kecerdasan emosional.
Interpersonal
Walau baru digulirkan secara populer oleh Daniel Goleman melalui bukunya Emotional Intelligence pada awal tahun 2000, sesungguhnya konsep kecerdasan emosional bukan barang baru. Akar dari konsep ini berasal dari Charles Darwin yang digagas dari pentingnya ekspresi emosional bagi adaptasi dan pertahanan. Awal 1920-an, E. L. Thorndike dari Columbia University, menggunakan terminologi kecerdasan emosional untuk menjelaskan keahlian memahami dan mengatur manusia lain oleh manusia.
Kecerdasan sosial dipaparkan oleh Goleman sebagai hubungan interpersonal, baik buruk atau baik, memiliki kekuatan untuk membentuk otak kita dan memepangaruhi sel-sel tubuh. Lebih jauh, hubungan ini berimbas pada sistem imunitas dan usia manusia.
Di era modern ini, kebutuhan akan kemampuan berperilaku positif makin disadari di samping sekadar pendidikan tinggi intelektual. Maka bermunculanlah sekolah kepribadian, kursus table manner, dan sebagainya, demi menghasilkan manusia yang bukan saja cerdas intelektual, tapi juga emosional dan sosial. Namun, apakah betul semua pendidikan perilaku tadi menjamin seseorang akan memiliki EQ yang baik?
Sahabat lain pernah beropini bahwa sekolah kepribadian hanya sekadar memberi dasar-dasar etika, norma-norma dan standar perilaku yang baik. Selebihnya akan kembali kepada manusianya, apakah memang mampu mengembangkan kecerdasan emosionalnya atau tidak. Jika tidak, kendati mengecap pendidikan kepribadian sampai puluhan tahun pun, kecerdasan emosionalnya tak membaik dan perilakunya tetap saja tak sesuai yang diharapkan.
Saya setuju, bahwa sekolah kepribadian sekadar pemoles belaka. Tutur kata halus, sopan santun, lemah gemulai, pandai bermain kata, menurut saya bukanlah jaminan bahwa seseorang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. Sebab buktinya di sekitar kita banyak manusia dengan penampilan santun dan tutur kata manis, nyatanya tak sejalan dengan moralitasnya. Katakan saja, banyak orang bertutur kata halus dan santun namun diam-diam masih korupsi, memfitnah, bahkan menjadi dalang kejahatan. Hal seperti ini pastinya jauh dari pemahaman manusiawi alias humanis.
Motivator
Hal serupa terjadi pada beragam kursus yang ditawarkan para motivator yang kini bermunculan bak jamur di musim hujan. Sebut saja nama Mario Teguh, Andri Wongso, atau yang lebih mengarah ke etika bisnis seperti Hermawan Kertajaya, Reinald Khasali, Safir Senduk, dan banyak lagi. Betul, mereka memberi panduan bagaimana mengendalikan kecerdasan emosional, mengembangkan kecerdasan sosial, menumbuhkan motivasi positif. Tapi apakah sebuah jaminan seseorang akan memiliki kecerdasan sosial dan emosional yang baik setelah mengikuti semua pengarahannya?
Orang dengan kecerdasan emosional dan sosial rendah, cenderung sulit berinteraksi dengan sesamanya. Kalaupun bisa, tentu dengan tingkat pemahaman yang rendah. Bisa dicontohkan, orang yang hebat di bidang politik, tapi kurang peka pada masalah sosial. Atau orang yang mahir 10 bahasa, menguasai semua program komputer, namun tak mampu memahami perasaan lawan bicara. Bisa juga pengusaha sukses, canggih dalam berbisnis, sayangnya tak peduli bahwa di luar sana banyak orang jadi korban bisnisnya. Dan seterusnya. Itulah yang kita alami saat ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang sudah IQ-nya rendah, pendidikannya rendah, plus EQ rendah pula? Namun di sisi lain, saya yakin, manusia dengan IQ dan pendidikan rendah masih bisa sukses hidupnya jika memiliki EQ dan SQ yang baik. Bahkan lebih sukses dari yang ber-IQ tinggi tapi EQ dan SQ-nya rendah.
Orang Indonesia pintar, berpendidikan tinggi, andal berpolitik, sukses berbisnis, sudah banyak sekali jumlahnya. Tapi apakah mereka punya kecerdasan sosial dan emosional yang mampu membuat bangsa ini lebih baik? Maaf, kecerdasan sosial, emosional dan intelektual saya pribadi juga masih rendah. Mari kita bersama-sama memperbaikinya.
Referensi: